KAJIAN MATEMATIKA SMA 1
STATISTIKA
Disusun
untuk memenuhi tugas mata kuliah Kajian Matematika SMA 1
Disusun oleh:
1. Devi
Komalasari 14144100037
2. Elly
Budiarti 14144100048
3. Eka
Novi Lestari 14144100049
PROGRAM
STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA
FAKULTAS
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
PGRI YOGYAKARTA
TAHUN
AJARAN 2016/2017
DAFTAR ISI
STATISTIKA
1. PENGERTIAN
Statistika
adalah cabang ilmu matematika yang mempelajari bagaimana cara mengumpulkan dan
menyusun data, mengolah dan menganalisa data, serta menyajikan data dalam
bentuk kurva atau diagaram, menarik kesimpulan, dan mengambil keputusan yang
didasarkan pada hasil pengolahan data.
Statistika
dibagi menjadi 2 macam, yaitu:
a.
Statistika
deskriptif
Statistika deskriptif
adalah statistika yang melakukan kegiatan dari mengumpulkan, menyusun,
menganalisa, mengolah, serta menyajikan data dalam bentuk kurva.
b.
Statistika
inferensi
Statistika inferensi
adalah penarikan kesimpulan dalam statistika. Hasil dari data yang sudah diolah
dan dianalisa yang disebut statistik.
Dalam
suatu penelitian, seluruh objek yang akan diteliti disebut populasi, sedangkan
sebagian dari populasi yang benar-benar diamati disebut sampel atau contoh.
Misalkan, kita akan meneliti apakah dampak dari curah hujan yang tinggi bagi
petani padi desa Pandak. Karena di desa Pandak ada 10 Rt, maka akan diambil
secara acak 5 petani untuk diteliti. Dalam hal ini, petani padi desa Pandak
disebut populasi, sedangkan yang terpilih dari masing-masing Rt disebut sampel.
Datum
adalah setiap informasi atau keterangan yang diperoleh dari suatu penelitian.
Kumpulan dari datum disebut data. Menurut jenisnya, data dibedakan menjadi 2
macam, yaitu:
a. Data kualitatif
Data kualitatif adalah
data yang menunjukkan sifat/keadaan objek atau berupa tidak berupa angka.
Contoh: data tentang nilai sikap yang dinyatakan dengan “baik”, “cukup”, atau
“kurang”.
b. Data kuantitatif
Data kuantitatif adalah
data yang menunjukkan jumlah ukuran objek atau berupa angka. Contoh: data
tentang tinggi badan, berat badan, nilai siswa.
Menurut
cara memperolehnya, data kuantitatif dapat dibedakan menjadi 2 macam, yaitu:
a. Data ukuran (data
kontinu)
Data ukuran adalah data
yang diperoleh dengan cara mengukur. Contoh: data tentang luas petak sawah.
b. Data cacahan (data
diskrit)
Data cacahan adalah
data yang diperoleh dengan cara mencacah, membilang, atau menghitung banyak
objek. Contoh: data tentang banyaknya penumpang kereta api x setiap harinya.
2. PENYAJIAN DATA
Data
yang sudah dikumpulkan dapat disajikan dalam bentuk tunggal, data kelompok atau
data yang dikelompokkan dengan tabel dan data yang disajikan dalam bentuk
macam-macam diagram tergantung tujuan dibuatnya data tersebut.
2.1 Data Tunggal
Data tunggal
adalah adata yang disusun sendiri menurut besarnya. Contoh: Data dari bilangan
antara 1 sampai 40 yang berkelipatan 5 adalah: 5, 10, 15, 20, 25, 30, 35.
2.2 Data Kelompok
Data kelompok yang disajikan dalam
bentuk tabel disebut tabel distribusi frekuensi. Contoh:
|
Nilai
|
Titik tengah (
)
|
Frekuensi (
)
|
|
21 – 30
|
25,5
|
10
|
|
31 – 40
|
35,5
|
9
|
|
41 – 50
|
45,5
|
2
|
|
51 – 60
|
55,5
|
7
|
|
61 – 70
|
65,5
|
19
|
|
71 – 80
|
75,5
|
19
|
|
81 – 90
|
85,5
|
19
|
|
91 – 100
|
95,5
|
15
|
· Kelas
Data
yang terdiri atas 100 nilai amatan pada tabel di atas dikelompokkan menjadi
delapan kelas, yaitu kelas pertama 21 – 30, kelas kedua 31 – 40, kelas ketiga
41 – 50, kelas keempat 51 – 60, kelas kelima 61 – 70, kelas keenam 71 – 80,
kelas ketujuh 81 – 90, kelas kedelapan 91 – 100.
· Batas kelas
Batas
kelas ditentukan sebagai nilai-nilai ujung yang terdapat pada sebuah kelas.
Nilai ujung bawah suatu kelas disebut batas bawah kelas, dan nilai unjung atas
suatu kelas disebut batas atas kelas. Misalnya kelas pertama 21 – 30, batas
bawahnya 21 dan batas atasnya 30.
· Tepi kelas
Tepi
kelas ada 2, yaitu tepi bawah kelas dan tepi atas kelas.
|
Tepi
bawah = batas bawah – 0,5
Tepi
atas = batas atas + 0,5
|
Misalnya
kelas pertama 21 – 30, tepi bawahnya 20,5 dan tepi atasnya 30,5.
· Panjang kelas
Panjang
kelas adalah selang antara tepi atas kelas dan tepi bawah kelas.
|
Panjang
kelas = tepi atas – tepi bawah
|
Misalnya
kelas pertama 21 – 30, panjang kelasnya adalah 10.
· Titik tengah kelas
Titik
tengah kelas adalah suatu nilai yang dapat dianggap mewakili kelas itu.
|
Titik
tengah =
(batas bawah + batas atas)
|
2.3 Penyajian Data dalam Diagram
2.3.1 Diagram Batang
Penyajian data statistik dengan
menggunakan gambar berbentuk balok atau batang disebut diagram batang.
Batang-batang itu dapat dilukiskan secara tegak (diagram batang tegak) atau mendatar (diagram batang mendatar), tetapi antara satu dengan batang lainnya
diberi jarak sehingga letak tiap batang
tampak terpisah. Misalnya, tabel frekuensi ukuran sepatu kelas VII E SMPN 1
Sleman.
|
No.
|
Ukuran
Sepatu
|
Frekuensi
|
|
1
|
33
|
2
|
|
2
|
34
|
4
|
|
3
|
35
|
3
|
|
4
|
36
|
2
|
|
5
|
37
|
6
|
|
6
|
38
|
4
|
|
7
|
39
|
3
|
|
Total
|
24
|
|
Gambar diagram batang:
Diagram Batang
Tegak Diagram Batang Mendatar
Diagram batang tersebut disebut diagram
batang tunggal. Selain diagram batang tunggal, dikenal dua diagram batang yang
lain, yaitu:
1)
Diagram batang majemuk
2)
Diagram batang
bertingkat
2.3.2 Diagram Garis
Data yang disajikan dengan grafik yang
berbentuk garis lurus disebut diagram garis atau grafik garis. Diagram garis
biasanya digunakan untuk menyajikan data yang diperoleh berdasarkan pengamatan
dari waktu ke waktu secara berurutan. Misalnya, tabel frekuensi ukuran sepatu
kelas VII E SMPN 1 Sleman.
|
No.
|
Ukuran
Sepatu
|
Frekuensi
|
|
1
|
33
|
2
|
|
2
|
34
|
4
|
|
3
|
35
|
3
|
|
4
|
36
|
2
|
|
5
|
37
|
6
|
|
6
|
38
|
4
|
|
7
|
39
|
3
|
|
Total
|
24
|
|
Gambar
diagram garis:
2.3.3 Diagram Lingkaran
Penyajian data statistik dengan
menggunakan gambar yang berbentuk daerah lingkaran disebut diagram lingkaran.
Diagram tersebut dapat dibuat dengan membagi lingkaran menurut data yang ada
dan dengan menggunakan busur derajat dan membagi keliling lingkaran. Misalnya,
data ukuran sepatu kelas VII E SMPN 1 Sleman.
Tabel Presentasi Ukuran
Sepatu
|
No.
|
Ukuran
Sepatu
|
Frekuensi
(f)
|
Ukuran
sudut pusat
x 360o
|
|
1
|
33
|
3
|
x 360o = 45o
|
|
2
|
34
|
4
|
x 360o = 60o
|
|
3
|
35
|
4
|
x 360o = 60o
|
|
4
|
36
|
3
|
x 360o = 45o
|
|
5
|
37
|
6
|
x 360o = 90o
|
|
6
|
38
|
4
|
x 360o = 60o
|
|
Total
|
24
|
3600
|
|
2.3.4 Diagram Batang Daun
Langkah-langkah yang diperlukan untuk
membuat diagram batang daun adalah sebagai berikut:
a.
Tuliskan bagian batang
secara terurut.
b.
Tuliskan bagian daun
dari setiap ukuran pada batang yang bersesuaian.
c.
Urutkan daun setelah
kegiatan (b) selesai dilakukan.
Contoh:
Berikut
ini adalah data suhu atmosfir tempat-tempat di bumi dalam derajat Celcius.
30 17 27 20 46 16 30 22 19 45
21 12 38 26 36 13 39 15 43 15
Buatlah
diagram batang daun dari data tersebut!
Jawab:
Dengan
langkah (a) dan (b) buat diagramnya. Kemudian dengan langkah (c) buat juga
diagramnya.
|
Batang
|
Daun
|
|
1
2
3
4
|
2355679
01267
00689
356
|
|
Daun
|
Batang
|
|
1
2
3
4
|
7692355
70216
00869
653
|
2.3.5 Histogram dan Ogif
Histogram adalah penyajian daftar
distribusi frekuensi yang terdiri dari segiempat-segiempat yang alasnya pada
sumbu mendatar. Poligon frekuensi kumulatif adalah grafik yang menunjukkan frekuensi
kumulatif. Jika poligon frekunsi kumulatif dimuluskan diperoleh kurva frekeunsi
kumulatif yang disebut ogif. Untuk frekuensi kumulatuf kurang dari, grafiknya
disebut ogif positif. Sedangkan untuk frekuensi kumulatif lebih dari, disebut
ogif negatif.
3. UKURAN PEMUSATAN DATA
Ukuran
pemusatan data adalah ukuran untuk memberikan gambaran wakil data dari sampel
yang diambil yang selanjutnya akan mewakili populasinya. Secara umum yang
termasuk ukuran pemusatan data adalah:
a.
Mean (rata-rata hitung)
b.
Median (kuartil tengah)
c.
Modus
3.1 Mean
Mean
(rataan) dari suatu data adalah perbandingan jumlah semua nilai datum dengan
banyak datum.
3.1.1 Data Tunggal
Jika
suatu data terdiri atas nilai-nilai
,
,
, ... ,
, maka rataan dari dua data itu
ditentukan dengan rumus berikut:
atau
Keterangan:
:
rataan dari suatu data.
: banyak data.
:
nilai data yang ke-i
Contoh:
Hitunglah
rataan dari data 4, 5, 6, 7, 8, 10, 10, 10.
Jawab:
Jadi,
mean untuk data tersebut adalah 7,5.
3.1.2 Data Kelompok
Mean data kelompok dapat ditentukan
dengan rumus:
Keterangan
:
: total banyaknya data ke-i
=
frekuensi data ke-i
:
nilai data yang ke-i
Contoh:
|
Hasil pengukuran
(dalam mm)
|
Titik tengah
|
Frekuensi
|
|
|
3 – 5
|
4
|
3
|
12
|
|
6 – 8
|
7
|
5
|
35
|
|
9 – 11
|
10
|
12
|
120
|
|
12 – 14
|
13
|
9
|
127
|
|
15 – 17
|
16
|
7
|
112
|
|
18 – 20
|
19
|
4
|
76
|
|
|
|
= 40
|
= 482
|
Jawab:
=
=
=
12,05
Jadi,
mean data tersebut adalah 12,05.
3.2 Median
Median
adalah sebuah nilai datum yang berada di tengah-tengah, dengan catatan data
telah diurutkan dari nilai terkecil sampai dengan nilai terbesar.
3.2.1 Data Tunggal
a) Jika
ukuran data n ganjil, maka mediannya adalah nilai datum yang di tengah atau
nilai datum yang ke
.
Ditulis: Median
b) Jika
ukuran data n genap, maka mediannya adalah rataan dari dua nilai datum yang
tengah atau rataan dari nilai datum ke
dan nilai datum ke
.
Ditulis:
Median
Contoh:
Tentukan
median dari data berikut ini.
1) 4,
5, 7, 9, 10
Nilai data sudah
terurut dengan ukuran data n = 5
(ganjil).
Median =
=
=
7.
2) 12,
11, 7, 8, 6, 13, 9, 10
Nilai data tersebut
jika diurutkan menjadi 6, 7, 8, 9, 10, 11, 12, 13. Ukuran data n = 8 (genap).
Median =
(
=
(
)
=
(
)
= 9,5
3.2.2 Data Kelompok
Median
(
) data kelompok dirumuskan:
Keterangan:
L = tepi bawah kelas median p = panjang kelas
=
frekuensi kelas median n = banyak data
= frekuensi kumulatif sebelum kelas median.
Contoh:
|
Panjang
(cm)
|
|
|
|
25
– 29
|
6
|
6
|
|
30
– 34
|
10
|
16
|
|
35
– 39
|
10
|
26
|
|
40
– 44
|
8
|
34
|
|
45
– 49
|
4
|
38
|
|
50
– 54
|
12
|
50
|
|
Jumlah
|
50
|
|
Jawab:
= data ke- (
= data ke-25,5
terletak di kelas interval 35-39.
=
=
39
Jadi, median dari data
tersebut adalah 39.
3.3 Modus
Modus
adalah nilai datum yang sering muncul atau nilai datum yang mempunyai frekuensi
terbesar.
3.3.1 Data Tunggal
Contoh:
a) Suatu
data 3, 4, 4, 5, 5, 6, 6, 6, 7, 7 mempunyai modus 6.
Karena nilai datum 6
paling sering muncul, yaitu sebanyak 3 kali.
b) Suatu
data 4, 5, 6, 7, 7, 8, 8, 9, 10 mempunyai modus 7 dan 8.
Karena nilai datum 7
dan 8 bersamaan paling sering muncul, yaitu sebanyak 2 kali.
c) Suatu
data 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 13 tidak mempunyai modus.
Karena data ini tidak
mempunyai nilai datum yang paling sering muncul.
Dari
contoh di atas tampak bahwa ada suatu data yang hanya mempunyai satu modus
disebut unimodus, mempunyai dua modus disebut bimodus, dan ada pula yang
mempunyai lebih dari dua modus disebut multimodus serta ada suatu data yang
sama sekali tidak mempunyai modus.
3.3.2 Data Kelompok
Modus
data kelompok dirumuskan:
Keterangan :
L = tepi bawah kelas
modus.
=
selisih frekuensi kelas modus dan kelas sebelumnya.
=
selisih frekuensi kelas modus dan kelas sesudahnya.
p = panjang kelas
Contoh:
Di bawah ini tabel
frekeunsi pengukuran tinggi badan siswa kelas XI IPA SMA Sumedang.
|
Tinggi
Badan (cm)
|
Frekuensi
|
|
160
– 164
|
6
|
|
165
– 169
|
8
|
|
170
– 174
|
12
|
|
175
– 179
|
8
|
|
180
– 184
|
2
|
|
185
– 189
|
4
|
Jawab:
Modus data terletak
pada kelas interval 170 – 174 karena frekuensi data pada data kelas tersebut
paling banyak.
=
12 – 8 = 4
=
12 – 8 = 4
=
172
Jadi, modus data
tersebut adalah 172.
4. UKURAN LETAK DATA
Ada
tiga macam ukuran letak data berdasarkan nilai-nilai batas yaitu kuartil,
desil, dan persentil.
4.1 Kuartil
Kuartil
adalah nilai batas jika sekumpulan data yang telah diurutkan dari kecil ke
besar dibagi menjadi empat bagian yang sama.
4.1.1 Data Tunggal
Ada 3 macam kuartil, yaitu:
1.
Kuartil pertama (
) mempartisi data menjadi
bagian dan
bagian (kuartil bawah).
2.
Kuartil kedua (
) mempartisi data menjadi
bagian. Kuartil kedua disebut juga sebagai
median.
3.
Kuartil ketiga (
)
mempartisi data menjadi
bagian dan
bagian (kuartil atas).
Kuartil
untuk data tunggal ditentukan dengan rumus:
Contoh:
Tentukan
,
,
dari data berikut:
52,
91, 55, 100, 58, 99, 70, 54, 98, 64, 56!
Jawab:
Diketahui
n = 11.
Data
diurutkan menjadi: 52, 54, 55, 56, 58, 64, 70, 91, 98, 99, 100.
· Letak
di
urutan data ke-
Jadi, nilai
=
55.
· Letak
di
urutan data ke-
Jadi, nilai
=
64.
· Letak
di
urutan data ke-
Jadi, nilai
=
99.
4.1.2 Data Kelompok
Nilai
,
, dan
dari data kelompok dengan rumus berikut
ini:
1.
Kuartil bawah (
)
2.
Kuartil kedua (
)
3. Kuartil
atas (
)
Keterangan:
:
kuartil ke-
:
tepi kelas bawah yang memuat
:
panjang kelas
:
jumlah frekuensi sebelum kuartil ke-
:
frekuensi kuartil ke-
Contoh:
Tentukan
nilai kuartil pertama, kuartil kedua, dan kuartil ketiga untuk data kelompok
tentang hasil pengukuran (dalam mm) pada tabel di bawah ini:
|
Hasil Pengukuran
(dalam mm)
|
Titik Tengah
|
Frekuensi
|
|
119 – 127
128 – 136
137 – 145
146 – 154
155 – 163
164 – 172
173 – 181
|
123
132
141
150
159
168
177
|
3
6
10
9
7
3
2
|
Jawab:
a)
.
Jadi, kuartil pertama
adalah:
b)
.
Jadi, kuartil kedua
adalah:
c)
.
Jadi, kuartil ketiga
adalah:
4.2 Desil
Desil
adalah nilai batas jika sekumpulan data yang telah diurutkan dari kecil ke
besar dibagi menjadi sepuluh bagian yang sama.
4.2.1 Data Tunggal
Desil untuk data tunggal ditentukan
dengan rumus:
Contoh:
Tentukan
dari data 2, 2, 3, 3, 3, 5, 6, 7, 7, 7, 8, 8, 9, 10,
10, 13, 16, 16, 20!
Jawab:
Diketahui
n = 20
Urutan
data:
Dari
data tersebut dapat dicari:
Letak
di urutan data
ke-
Jadi,
4.2.2 Data Kelompok
Desil untuk data kelompok ditentukan
dengan rumus:
Keterangan:
: desil ke-i
: tepi bawah kelas yang memuat desil ke-i
:
panjang kelas
:
jumlah frekuensi sebelum desil ke-i
:
frekuensi desil ke-i
Contoh:
Data
tinggi badan dari 100 orang siswa
disajikan dalam tabel distribusi frekuensi. Carilah nilai desil keempat!
|
Tinggi badan (dalam
cm)
|
Frekuensi
|
|
150 – 154
155 – 159
160 – 164
165 – 169
170 – 174
|
6
19
40
27
8
|
Jawab:
Desil
keempat
Substitusi
:
4.3 Persentil
Persentil
adalah nilai batas jika sekumpulan data yang telah diurutkan dari kecil ke
besar dibagi menjadi seratus bagian yang sama.
4.3.1 Data Tunggal
Persentil
untuk data tunggal ditentukan dengan rumus:
Contoh:
Dari
data 52, 54, 55, 56, 58, 64, 70, 91, 98, 99, 100 tentukan
!
Jawab:
Diketahui
n = 11
Urutan
data:
Letak
di urutan data
yang ke
Jadi,
4.3.2 Data Kelompok
Persentil
untuk data kelompok ditentukan dengan rumus:
Keterangan:
: persentil ke-i
: tepi bawah kelas yang memuat persentil ke-i
:
panjang kelas
:
jumlah frekuensi sebelum persentil ke-i
:
frekuensi persentil ke-i
Contoh:
Tentukan
dari data di bawah ini!
|
Tinggi badan (dalam
cm)
|
Frekuensi
|
|
150 – 154
155 – 159
160 – 164
165 – 169
170 – 174
|
5
20
42
26
7
|
Jawab:
Letak
di urutan data ke-
Kelas
pada interval 155 – 159 sehingga:
5. UKURAN PENYEBARAN DATA
Ukuran
penyebaran data atau ukursan dispersi menunjukkan seberapa besar nilai-nilai dalam
suatu kumpulan data memiliki nilai yang berbeda. Ukuran dispersi ada beberapa
macam adalah rentang (jangkauan atau range), jangkauan antarkuartil, simpangan
kuartil, ragam, dan simpangan baku.
5.1 Rentang (jangkauan atau range)
Rentang
atau jangkauan (range) merupakan ukuran penyebaran yang paling sederhana dan
mudah dipahami serta didefinisikan sebagai selisih nilai maksimum (data
terbesar) dengan nilai minimum (data terkecil) yang dinyatakan sebagai berikut:
dengan
= rentang (range),
= data terbesar,
= data terkecil.
5.2 Jangkauan antarkuartil
Jangkauan
antarkuartil didefinisikan sebagai selisih antar kuartil ketiga dengan kuartil
pertama. Jangkauan antarkuartil disebut hamparan, ditentukan dengan rumus:
dengan
= hamparan,
= kuartil tiga,
= kuartil
pertama.
5.3 Simpangan Kuartil
Simpangan
kuartil didefinisikan sebagai setengah kali panjang hamparan. Oleh karena itu,
simpangan kuartil disebut juga rentang semi antarkuartil. Simpangan kuartil
ditentukan dengan rumus:
5.4 Ragam dan Simpangan Baku
Simpangan
baku adalah ukuran penyebaran yang paling baik karena mencerminkan besaran
pneyebaran tiap-tiap observasi. Kuadrat dari simpangan baku disebut ragam atau
variansi.
5.4.1 Data Tunggal
Misalkan
adalah rataan
dari data
, maka
·
Ragam atau variansi
data ditentukan oleh:
·
Simpangan baku atau
deviasi standar data ditentukan oleh:
Dengan
n = ukuran data,
= nilai datum yang ke-i, dan
= nilai rataan.
Contoh:
Tentukan
ragam
dan simpangan
baku
untuk data: 10,
44, 56, 62, 65, 72, 76!
Jawab:
Ukuran data n = 7
Jumlah
kuadrat setiap simpangannya:
·
Ragamnya:
·
Simpangan Baku:
5.4.2 Data Kelompok
Ragam dari suatu data yang disajikan
dengan menggunakan daftar distribusi frekuensi dapat ditentukan dengan rumus:
Sedangkan
simpangan bakunya ditentukan oleh:
dengan:
n
=
= ukuran data
r
= menyatakan banyak kelas
6. TAFSIRAN RINGKASAN DATA
6.1 Koefisien Keragaman (Koefisien Variasi)
Koefisien
keragaman (koefisien variasi) adalah variasi dalam bentuk relatif yang
menyatakan simpangan baku sebagai bentuk persentase rata-rata hitung.
= koefisien variasi
= simpangan baku
= Rata-rata
Semakin
kecil
datanya
semakin seragam.
Contoh:
Sejenis
lampu elektron rata-rata dapat dipakai selama 4500 jam dengan simpangan baku
1350 jam. Lampu model lain dapat dipakai rata-rata 12.000 jam dengan simpangan baku 2400 jam. Manakah lampu
yang secara relatif masa pakainya lebih seragam?
Jawab:
Jadi,
lampu jenis II secara relatif mempunyi masa pakai lebih seragam.
6.2 Nilai Standar (Nilai Baku)
Nilai standar (angka baku) merupakan
data yang mempunyai rata-rata hitung = 0 dan simpangan baku = 1 sehingga
kurvanya disebut kurva normal standar. Rumus nilai standar:
Contoh:
Seorang
siswa kelas II IPA dalam ulangan umum mendapat nilai:
v Matematika
85 dengan rata-rata kelas 78 dan simpangan baku 10
v Fisika
92 dengan rata-rata kelas 84 dan simpangan baku 18
Bagaimana
kedudukan siswa tersebut daalam pelajaran matematika apakah lebih baik dari
fisika atau sebaliknya?
Jawab:
v Untuk
Matematika
Maka nilai standar
Matematika:
v Untuk
Fisika,
v Maka
nilai standar Fisika:
Siswa
tersebut mendapat 0,7 simpangan di atas rata-rata Matematika dan 0,44 simpangan
di atas rata-rata Fisika. Jadi, kedudukan siswa tersebut lebih baik dalam mata
pelajaran Matematika.
6.3 Kemiringan
Kemiringan
adalah derajat ketidaksimetrisan dari suatu distribusi.
v Jika
kurva distribusi frekuensi mempunyai
ekor yang lebih panjang ke kanan bila dilihat dari puncak maksimum (koefisien
kemiringan > 0), maka distribusi seperti ini disebut miring ke kanan atau
mempunyai kemiringan positif.
v Jika
kurva distribusi frekuensi mempunyai ekor yang lebih panjang ke kiri bila
dilihat dari puncak maksimum (koefisien kemiringan < 0), maka distribusi
seperti ini disebut kemiringan ke kiri atau mempunyai kemiringan negatif.
v Jika
kemiringan = 0 maka distribusi seperti ini disebut simetris.
Untuk
melihat kemiringan, digunakan beberap rumus yang ditemukan oleh beberapa
penemu, antara lain:
1. Koefisien
kemiringan pearson pertama, yaitu
:
koefisien kemiringan pearson 1
:
mean
:
modus
S :
simpangan baku
2. Koefisien
kemiringan pearson kedua, yaitu
:
koefisien kemiringan pearson 1
:
mean
:
median
S :
simpangan baku
3. Koefisien
Kemiringan Persentil dan Kelly, yaitu:
: koefisien kemiringan Persentil
: persentil ke-90
: persentil ke-50
: persentil ke-10
Contoh:
Dari
100 orang yang dicatat berat badannya, dikelompokan dalam interval seperti pada
tabel. Tentukan kemiringannya.
|
Kelas interval
|
xi
|
F
|
|
58-60
|
59
|
10
|
|
61-63
|
62
|
18
|
|
64-66
|
65
|
42
|
|
67-69
|
68
|
22
|
|
70-72
|
71
|
8
|
|
|
Σf = 100
|
|
Jawab:
Untuk menentukan
kemiringannya, tabel tersebut di lengkapi menjadi tabel seperti di bawah ini:
|
Kelas
interval
|
|
|
|
|
|
|
|
58-60
|
59
|
10
|
10
|
590
|
6
|
360
|
|
61-63
|
62
|
18
|
28
|
1116
|
3
|
162
|
|
64-66
|
65
|
42
|
70
|
2730
|
0
|
0
|
|
67-69
|
68
|
22
|
92
|
1496
|
3
|
198
|
|
70-72
|
71
|
8
|
100
|
568
|
6
|
288
|
|
Jumlah
|
|
100
|
|
6500
|
|
1008
|
Dari tabel dapat
dicari:
Mean:
Median: Me
= 63,5 +
= 65,07
Modus: Mo =
63,5 +
= 65,14
Simpangan baku:
S =
= 3,17
Dengan rumus
kemiringan pearson yang kedua diperoleh
KPII =
=
= - 0,066
Atau dengan
rumus kemiringan pearson yang pertama diperoleh.
KP1 =
=
= - 0,044
Berdasarkan
perhitungan diatas, kemiringan negatif maka model grafiknya cenderung ke kiri.
6.4 Kurtosis
Ukuran
kurtosis adalah ukuran untuk mengetahui tinggi rendahnya atau runcing datarnya
bentuk kurva distribusi normal. Untuk menentukan ukuran kurtosis digunakan
koefisien persentil.
K
: koefisien persentil kurtosis
: kuartil bawah
: kuartil
atas
Kurva
normal mempunyai K = 0,263 disebut mekokurtis. Jika > 0,263 distribusinya
lebih runcing dibandingkan distribusi normal disebut leptokurtis. Jika K < 0,263 distribusinya lebih tumpul
dibandingkan dengan distribusi normal disebut platikurtis.
Contoh:
Dari
data pada contoh di kemiringan, tentukan kurtosisnya?
Jawab:
Terlebih
dahulu dibuat tabel distribusi ferekuensi kumulatif kurang dari sebagai
berikut.
|
Kelas
interval
|
fi
|
fk
≤
|
|
|
58-60
61-63
64-66
67-69
70-72
|
10
18
42
22
8
|
60,5
63,5
66,5
69,5
72,5
|
10
28
70
92
100
|
|
Σ
|
100
|
|
|
v Letak
KI di urutan data ke -
, KI termuat pada interval 61–
62 yaitu kelas yang memuat fk = 25
Jadi, KI
= 60,5 +
v Letak
K3 di urutan data ke-
K3
termuat pada interval 67 - 69, yaitu kelas yang memuat fk = 75
Jadi, K3
= 66,5 +
v Letak
P10 di urutan data ke-
P10
termuat pada interval 58 - 60, yaitu kelas yang memuat fk = 10
Jadi, P10
= 57,5 +
v Letak
P90 di urutan data ke-
P90
termuat pada interval 67 - 69, yaitu kelas yang memuat fk = 90
Jadi,
P90
= 66,5 +
Maka
dapat ditentukan ukuran kurtosis sebagai berikut.
K
=
=
=
=
0,24
Karena
K = 0,24 < 0,263 maka data tersebut distribusinya lebih tumpul dibandingkan
distribusi normal, sering disebut platikurtis.
LATIHAN SOAL
1.
Tentukan nilai rataan
hitung dari 6, 9, 8, 5, 12, 10, 2, 4, 7!
Jawab:
Nilai rataan dari data
di atas adalah:
2.
Dari 12 siswa peserta
sepak bola tercatat rataan tinggi badannya 162 cm, jika ditambah 1 orang pemain
cadangan rataan tinggi badan menjadi 162,1 cm. Berapa tinggi pemain cadangan itu?
Jawab:
Misalkan: tinggi pemain
cadangan itu x.
Maka tinggi pemain
cadangan itu dihitung dengan:
Jadi, tinggi pemain
cadangan itu adalah 163,3 cm.
3.
Tentukan mean dari data
kelompok berikut:
|
Interval
|
f
|
|
30
– 34
35
– 39
40
– 44
45
– 49
50
– 54
55
– 59
60
– 64
|
2
3
8
23
20
21
3
|
Jawab:
|
Interval
|
F
|
|
|
|
30
– 34
35
– 39
40
– 44
45
– 49
50
– 54
55
– 59
60
– 64
|
2
3
8
23
20
21
3
|
32
37
42
47
52
57
62
|
64
111
336
1081
1040
1197
186
|
|
|
|
|
|
4.
Tentukan median dari
data berikut!
|
Berat
Badan
|
|
|
|
56
59
62
65
68
71
|
2
5
13
14
4
2
|
2
7
20
34
38
40
|
Jawab:
Banyaknya data adalah
40, maka jika diurutkan naik median jatuh pada:
.
5.
Tentukan median dari
data kelompok di bawah ini!
|
Interval
|
F
|
|
30
– 34
35
– 39
40
– 44
45
– 49
50
– 54
55
– 59
60
– 64
|
2
3
8
23
20
21
3
|
|
|
|
Jawab:
|
Interval
|
f
|
fk
|
|
30
– 34
35
– 39
40
– 44
45
– 49
50
– 54
55
– 59
60
– 64
|
2
3
8
23
20
21
3
|
2
5
13
36
56
77
80
|
|
|
|
|
(frekuensi sebelum 40), kelas median adalah
kelas kelima.
6.
Tentukan modus dari data berikut !
4, 8, 7, 4,
6, 3, 6, 8, 6, 3
Jawab:
Data yang
paling sering muncul adalah 6, maka Mo = 6
DAFTAR PUSTAKA
Wirdiatmi, dkk. Matematika 2 untuk SMA kelas 2 IPA,
Bekasi: PT Galaxy Puspa Mega.
Wirodikromo, Sartono. 2007. Matematika SMA 2 IPA, Jakarta. Erlangga.
Subchan, W. d. (2015). Buku Guru
Matematika. Jakarta: Pusat Kurikulum dan Perbukuan Balitbang.
Th. Widyantini,Sumardyono,
dkk. 2009. Kapita Selekta
Pembelajaran Statistika Dan Peluang. Yogyakarta: PPPPTK
Abdur Rahman As’ari, Mohammad Tohir, dkk. 2014. Matematika. Jakarta: Pusat Kurikulum dan
Perbukuan Balitbang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar